Rabu, 20 Agustus 2008

Membentuk Jiwa Wirausaha

Perbedaan antara seorang wirausahawan dengan pengusaha seringkali menjadi
pertanyaan bagi banyak orang. Biasanya wirausahawan (entrepreneur) akan dengan pengusaha. Mungkin karena memang kebanyakan pengusaha atau wiraswastawan.
Menurut Taufik Bahaudin. seorang konsultan manajemen dalam ruang lingkup Manajemen sumberdaya manusia dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. seorang wirausahawan adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan memanfaatkan peluang dalam menuju apa yang diinginkan sesuai dengan diidealkan
Perbedaan seorang wiraswastawan dengan seorang wirausahawan adalah wirausahawan cenderung bermain dengan resiko dan tantangan. Artinya. wirausahawan lebih bermain dengan cara memanfaatkan peluang-peluang tersebut. Sedangkan wiraswastawan lebih cenderung kepada seseorang yang memanfaatkan modal yang dimilikinya untuk membuka suatu usaha tertentu. Seorang wirausahawan bisa jadi merupakan wiraswastawan, namun wiraswastawan belum tentu wirausaha. Wirausahawan mungkin adalah seorang manajer yang mengelola suatu perusahaan yang bukan miliknya. Namun wiraswastawan adalah seseorang yang memiliki sebuah usaha sendiri.

Tanri Abeng adalah seorang wirausahawan yang sukses, namun bukan seoang wiraswastawan karena ia tidak memiliki perusahaan yang dipimpinnya. Bob Sadino merupakan seorang wirausahawan yang juga seorang wiraswastawan yang memiliki perusahaan yang dipimpinnya. Bahkan bukan tidak mungkin pegawai yang bekerja pada pemerintahan dapat disebut wirausahawan karena ia sukses dalam mengembangkan diri dan departemen yang digelutinya. Setiap orang bisa disebut sebagai wirausahawan selama ia dapat memanfaatkan peluang menjadi sebuah tantangan dalam pekerjaannya. Ruang lingkup yang akan dibahas adalah sejauh mana pendidikan kewirausahawan dapat mempengaruhi jiwa seseorang. Ruang lingkup ini akan dipersempit kepada pendidikan kewirausaha yang diberikan di perguruan tinggi.

Perlunya Pendidikan Kewirausahaan
Kecenderungan yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa yang duduk di perguruan tinggi sekarang adalah kebanyakan dari mereka lebih menginginkan pekerjaan yang mapan setelah menyelesaikan pendidikannya. Mereka tidak mau mengawali kehidupan setelah lulus dari perguruan tinggi dengan memulai suatu usaha. Kesuksesan seseorang 1 Entrepeneurships mereka lihat dari ukuran seberapa makmur kehidupan orang tersebut, berapa besar gaji yang diperolehnya, apakah ia sudah memiliki mobil mewah atau rumah yang indah. Padahal, menurut Taufik, sukses tidaknya seorang wirausahawan bukan dilihat dari sudut pandang kemakmuran dan kesejahteraan seseorang. Namun lebih dinilai dari usaha apa yang telah diperbuat dalam pekerjaannya, baik itu dengan memulai suatu usaha sendiri atau lewat pekerjaan yang digelutinya.

Pendidikan kewirusahaan yang diberikan di perguruan tinggi sekarang ini cenderung kepada bagaimana memulai suatu usaha dan mengelola usaha tersebut dengan baik. Padahal mengacu kepada definisi wirarusaha yang diberikan sebelumnya, wirausaha bukan berarti harus memiliki suatu usaha. Wirausahawan secara umum adalah orang-orang yang mampu menjawab tantangan- tantangan dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Sehing-ga yang menjadi pertanyaan adalah keberadaan kurikulum pendidikan mengenai kewirausahaan ini. Apakah memang seharusnya mengajarkan bagaimana memulai usaha atau bagaimana menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang usaha ? Kalau yang diberikan adalah bagaimana memulai suatu usaha, maka kurikulum yang ada telah menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi kalau yang diberikan adalah bagaimana menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang usaha, maka akan timbul pertanyaan lain yang lebih sulit dijawab. Apakah seorang wirausahawan/entrepreneur itu dibentuk atau dilahirkan? Ulasan berikut ini lebih membahas pertanyaan yang terakhir tadi.

Dilahirkan atau Dibentuk
Beberapa pakar mengatakan secara umum, jiwa dan kepribadian seseorang itu paling tidak di pengaruhi oleh. dua hal, yaitu bakat dan lingkungan. Mengingat besarnya proporsi kedua faktor yang cukup membingungkan yaitu 50%:50%, maka agaknya hal ini perlu dikaji lebih lanjut. Apalagi dikaitkan dengan dimasukkannya pendidikan kewirausahaan di dalam kurikulum perguruan tinggi sekarang.

Memang akhir-akhir ini sudah banyak pelatihan-pelatihan yang diadakan baik oleh pemerintah maupun pihak swasta mengenai kewirausahaan. Bahkan di Amerika Serikat sendiri, yang banyak melahirkan ahli-ahli dalam bidang bisnis dan kewirausahaan, sudah banyak kursus-kursus yang memberikan pengetahuan mengenai kewirausahaan. Salah satunya di sekolah bisnis terkenal Harvard Business School. Salah satu pengajar kreativitas dan kewirausahaan di sekolah tersebut, John Kao, menganggap pendidikan kewirausahaan ini cukup penting, mengingat kembali pada besarnya lingkungan yang antara lain adalah pendidikan mempengaruhi bentuk kepribadian seseorang sebesar 5O%. Dari institusi pendidikan juga telah banyak lahir konsep-konsep mengenai bagaimana menjadi wirausahawan yang baik.

Motivasi dan Disiplin Diri
Walau demikian, tetap masih ada dilema mengenai faktor terbesar yang membentuk jiwa kewirausahaan. Apakah memang jiwa kewirausahaan itu bisa dibentuk dari lingkungan sekitar atau tergantung pada bakat yang ada pada diri seseorang tersebut.

Meskipun belum tentu bisa dibenarkan, tetapii ada sedikit pemikiran yang perlu disikapi. Dari sekian banyak buku-buku yang menulis dan membahas tentang wirausaha, ternyata para ahli tersebut merasa masih ada satu hal yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi wirausahawan yang sukses, yaitu motivasi dan disiplin diri. Motivasi dan disiplin diri mendapatkan proporsi yang besar untuk membentuk seseorang menjadi wirausahawan sejati, selain faktor bakat dan faktor lingkungan. Artinya, belum tentu seseorang yang memiliki bakat wirausaha dapat menjadi seorang wirausahawan sejati. Seseorang yang telah banyak mengikuti kursus-kursus, pelatihan-pelatihan maupun kuliah yang membahas mengenai cara mengelola suatu bisnis atau apapun, tetap memerlukan motivasi dan disiplin diri dalam menjalankan usahanya. Motivasi dan disiplin diri merupakan faktor penting, selain faktor bakat dan lingkungan, dalam membentuk seseorang menjadi wirausahawan sejati.

Faktor lingkungan ternyata paling penting tidak masih dapat dibagi kedalam dua hal, yaitu pengalaman dan pendidikan. Keduanya sama-sama memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan jiwa kewirausahaan. Dengan memiliki banyak pengalaman dan mengikuti banyak pelatihan maupun kursus yang sifatnya pendidikan, maka seseorang barulah lengkap dapat menuju jalur kesuksesan untuk menjadi seorang wirausahawan sejati. Bagaimanpun pepatah yang mengatakan “pengalaman adalah guru yang terbaik” masih menjadi relevan dalam hal kewirausahaan. Karena buku-buku yang membahas kewirausahaan di dunia bisnis ternyata tidak terlepas dari pembahasan atas pengalaman beberapa praktisi yang berkecimpung di dalam dunia kewirausahaan. (http://www.pintukaya.com/panduanbisnis7.php)

Senin, 18 Agustus 2008

Motivasi untuk berpikir kreatif

Menurut Teresa Amabile, profesor dari Harvard Business School yang sudah meneliti topik mengenai kreativitas pribadi dan organisasi ini, kita sering melihat proses kreativitas secara sempit. Ketika kita berbicara mengenai kreativitas, yang umumnya menjadi fokus kita adalah proses berpikir itu saja. Sementara kreativitas sebenarnya terdiri dari 3 komponen yang saling bertautan. Ketiganya adalah: keahlian, ketrampilan berpikir kreatif, dan motivasi.

Keahlian tentu saja tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Anda sulit menghasilkan ide kreatif untuk bidang yang tidak Anda kuasai dengan baik. Kalaupun bisa, biasanya Anda harus bekerjasama dengan orang yang ahli di bidang bersangkutan. Di sini, Amabile mendefinisikan keahlian secara luas. Bukan saja keahlian pribadi kita, tetapi keahlian dari orang-orang lain yang bisa kita akses. Jadi, semakin besar jaringan kenalan yang kita miliki, semakin luas juga keahlian yang bisa kita dapatkan. Ketrampilan berpikir kreatif juga sudah kita bahas berkali-kali di blog ini. Dengan alasan itu, fokus kita kali ini ada pada komponen ketiga yaitu motivasi.

Motivasi adalah topik yang kompleks. Kita tahu motivasi penting sebagai tenaga pendorong terhadap semua yang kita kerjakan. Tetapi tidak semua motivasi memiliki kekuatan yang sama besar. Amabile pernah mengadakan riset yang menyimpulkan motivasi terkuat untuk memacu pikiran kreatif adalah motivasi intrinsik, atau motivasi yang muncul dari dalam diri kita. Ketika kita termotivasi secara intrinsik, kita tidak mencari pengakuan dari luar dalam bentuk pujian atau materi. Kita melakukannya semata-mata demi kepuasan kita, demi aktualisasi diri kita.

Bagaimana dengan uang? Bukankah selama ini para manajer yang ingin para anak buahnya lebih kreatif sering menjadikan uang sebagai motivator? Uang, kata Amabile, tentu saja tidak menghalangi orang untuk kreatif. Namun pada kebanyakan kasus, uang juga tidak membantu. Kadang uang malah membuat motivasi intrinsik seseorang untuk berkarya menjadi surut karena digantikan oleh keinginan untuk mendapatkan uang tersebut. Uang juga tidak bisa membeli gairah (passion) yang dibutuhkan untuk mengatasi hambatan-hambatan besar yang muncul selama proses kreatif.

Karenanya, yang harus dilakukan adalah membangkitkan motivasi intrinsik. Caranya? Saran pertama adalah mencocokkan pekerjaan dengan kemampuan dan minat sang karyawan. Kelihatannya cukup sederhana, tetapi untuk bisa melakukan itu dengan baik, manajer harus mengenal diri para anak buahnya dengan baik. Pengumpulan informasi seperti itu kadang membutuhkan waktu lama sementara sang manajer mungkin terlalu sibuk dengan urusan lain. Cara lainnya adalah menentukan tujuan yang harus dicapai dan memberikan kebebasan karyawan untuk menemukan cara mencapai tujuan tersebut selama tidak melanggar etika dan hukum. Otonomi seperti itu bisa meningkatkan kreativitas karena luasnya ruang bergerak yang dimiliki karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan memberi mereka sense of ownership.

Setelah itu, sang atasan atau perusahaan harus bisa memberikan sumber daya dalam jumlah yang cukup bagi karyawan. Menariknya, sumber daya yang terlalu banyak bisa menghambat kreativitas karena karyawan akan mendapatkan banyak kemudahan. Sementara sumber daya yang terlalu sedikit juga memberi efek negatif yang sama.

Cara lain untuk meningkatkan motivasi intrinsik dilakukan oleh Novartis, sebuah perusahaan farmasi dunia. Di samping berupaya menghasilkan obat-obatan yang mampu menghasilkan laba jutaan USD, Novartis juga mengembangkan obat untuk keperluan negara-negara berkembang. Obat untuk lepra, misalnya, disumbangkan ke WHO sampai penyakit tersebut bisa dibasmi. Perusahaan ini juga melakukan penelitian untuk mengatasi penyakit-penyakit lain yang masih menyerang negara-negara miskin dan membangun pusat riset di Singapura untuk tujuan tersebut. Obat-obat tersebut, karena umumnya dijual dengan harga murah, memang tidak ditujukan untuk tujuan laba.

Melalui cara seperti itu, dengan memberikan sebuah sense of mission pada karyawan perusahaan, Novartis berhasil membangkitkan motivasi intrinsik para karyawannya. Para karyawan tidak melihat perusahaan sebagai entiti ekonomis belaka, tetapi juga sebagai tempat yang mampu menjawab kebutuhan emosional dan spiritual mereka.

Walau pendapat Amabile bahwa motivasi intrinsik lebih dibutuhkan dalam proses kreatif, beberapa pakar lain menambahkan bila motivasi ekstrinsik tetap dibutuhkan. Siapa dari kita yang mau bekerja dengan gratis walau pekerjaan tersebut cocok dengan minat kita sementara setiap bulannya harus ada tagihan-tagihan yang harus dibayar? Kecuali Anda telah mendapatkan harta warisan tak terhingga dari seorang paman kaya, kita semua masih harus menghadapi tekanan-tekanan hidup. Karena itu, pemberian motivasi ekstrinsik tetap harus diperhatikan.

Hanya saja pemberian tersebut tidak melulu harus berupa uang dan harus disesuaikan dengan pribadi masing-masing orang. Bila gaji Anda Rp. 2.000.000,-, bonus Rp. 250.000,- tentu akan diterima dengan senyum lebar. Tetapi berikanlah bonus sebesar itu pada seorang direktur dan Anda akan mendapatkan reaksi yang berbeda. Bagi eksekutif dengan jabatan setinggi itu, sebuah piagam yang nilainya lebih rendah secara tunai mungkin lebih dihargai. Untuk para ilmuwan, kesempatan mempublikasikan karyanya di jurnal-jurnal ilmiah bisa jadi lebih berharga dibandingkan uang sebesar berapapun. Beberapa orang lainnya mungkin lebih menyukai publisitas lewat buletin internal atau malah media massa lokal dan nasional.

Cara-cara lain yang lebih kreatif juga bisa diterapkan. Di beberapa perusahaan, bonus untuk ide karyawan dihitung berdasarkan persentase dari penghematan atau pendapatan tambahan yang berhasil didapatkan dari implementasi ide tersebut. Menawarkan kenaikan jabatan juga bisa dilakukan bila seorang karyawan telah beberapa kali memberikan ide-ide cemerlang.

Ya, motivasi memang topik yang sulit-sulit gampang untuk dibahas karena kompleksnya kebutuhan manusia. Tetapi kita juga tidak bisa menghindar dari masalah ini. Motivasi dan kreativitas terkait erat. Bila perusahaan Anda ingin membangkitkan kreativitas para karyawannya, masalah motivasi harus menjadi salah satu fokus utama. (http://www.itpin.com/blog/2007/01/26/motivasi-untuk-berpikir-kreatif/)

Minggu, 17 Agustus 2008

Bagaimana mengelola keuangan rumah tangga ?


Judul tulisan di atas sering dibahas di berbagai media, namun saya akan mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lain.

Rumah tangga, yang di dalamnya ada suami, isteri dan anak-anak, merupakan unit keuangan yang terkecil. Pada dasarnya mengelola keuangan rumah tangga sama seperti mengelola keuangan di perusahaan. Pada umumnya saat awal menikah, sering terjadi kesulitan mengatur keuangan rumah tangga, yang berakibat terjadi deficit cash flow pada akhir bulan, karena pengelolaan keuangan belum tertata dengan baik, dan belum ada perencanaan secara komprehensip.

1. Buat perencanaan setahun ke depan.

Pertama kali, buat rencana (anggaran) dalam satu tahun kedepan, yang di break down dalam bulanan. Perencanaan dipisahkan antara sumber dana (aliran dana masuk, bisa berasal dari gaji, pendapatan lain-lain dari mengajar, menulis dll) serta penggunaan dana.

Pada perencanaan telah tercantum rencana yang akan dilakukan sepanjang tahun, dan pisahkan : utama (biaya operasional), biaya pengembangan, biaya sosialisasi, cadangan (biaya tak terduga). Biaya operasional adalah biaya yang benar-benar harus dikeluarkan setiap bulannya tanpa bisa ditunda, antara lain: biaya listrik, air, biaya sekolah, transport, biaya kebutuhan bahan pokok /makan sebulan. Biaya pengembangan adalah biaya untuk meningkatkan kemampuan/kompetensi dan karir anggota keluarga, antara; biaya les komputer, les bahasa Inggris, les piano, biaya untuk kuliah lanjutan untuk suami/isteri. Biaya ini masih bisa ditunda atau dikurangi, apabila keuangan kita terbatas. Biaya sosialisasi, antara lain; sumbangan jika teman menikah, ada yang meninggal, arisan. Biaya ini bisa disesuaikan dengan kemampuan keuangan, dan apabila keuangan terbatas, pilih mengikuti arisan hanya untuk yang penting saja, dan memang harus diikuti. Biaya cadangan; diperlukan untuk menutup kebutuhan tak terduga. Seringkali keuangan kita terbatas, sehingga pos ini sering tidak ada dananya.

Pembagian pos-pos tadi bisa dibuat menggunakan amplop terpisah, atau bila memungkinkan menggunakan rekening tabungan Bank. Penggunaan rekening di Bank bermanfaat agar kita tak mudah mengambil uang untuk keperluan diluar anggaran. Pisahkan rekening di Bank yang ada kartu ATM dan yang tak ada kartu ATM nya, untuk diversifikasi risiko. Sebaiknya dana yang masuk di tabungan yang ada ATM nya dibatasi , karena :a) mengurangi risiko jika kartu ATM jatuh ketangan orang lain.b) mempunyai kartu ATM sama dengan memegang uang tunai, sehingga kalau kita tak berhati-hati maka dengan mudah akan tergiur untuk membelanjakan hal-hal yang tidak perlu.

Bagaimana dengan penggunaan kartu kredit? Kartu kredit bermanfaat sebagai pengganti uang tunai, sebaiknya penggunaan kartu kredit disesuaikan dengan rencana anggaran. Dengan demikian tak terjadi kesulitan karena penggunaan kartu kredit yang berlebihan, yang pada akhirnya membuat tagihan kartu kredit tak terbayar atau mengalami keterlambatan pembayaran.

2. Pisahkan sumber dan penggunaan dana

a) Sumber dana :

Darimana saja sumber dana akan diperoleh, apakah ada sumber dana lain selain gaji? Sebaiknya anggaran didasarkan atas sumber dana yang sudah pasti, sehingga jika ada tambahan pendapatan di luar rencana, bisa dimasukkan pada dana cadangan, yang nantinya bisa digunakan untuk investasi.

b) Penggunaan dana:

Memonitor secara ketat penggunaan dana sangat penting, dan yang perlu dipahami adalah bedakan antara penggunaan untuk jangka panjang dan untuk jangka pendek. Sebagai contoh: untuk biaya operasional bulanan, dapat menggunakan dana jangka pendek yang berasal dari gaji bulanan. Namun jika ingin membeli sesuatu yang akan digunakan untuk jangka panjang, seperti perabotan (mesin cuci, kulkas, televisi, furniture), kendaraan dan rumah, harus menggunakan dana jangka panjang. Dana jangka panjang berasal dari dana cadangan yang tak digunakan dan telah disimpan di rekening bank (terpisah dari kebutuhan bulanan), atau bisa berasal dari pinjaman. Jika berupa pinjaman, upayakan pinjaman juga berupa pinjaman jangka panjang, sehingga bisa diangsur setiap bulan dan dimasukkan dalam rencana/anggaran yang disusun. Hitung berapa angsuran per bulannya, apakah tidak akan mengganggu cash flow bulanan?

3. Buat prakiraan T account (neraca keuangan) sederhana serta cash flow nya

Untuk mengetahui posisi kekayaan kita, buat prakiraan neraca keuangan. Dari neraca keuangan kita akan mengetahui berapa harta (aktiva), yang terdiri dari: Aktiva lancar (uang tunai dan dana di rekening Bank yang dengan mudah dapat dicairkan), aktiva tetap ( perabotan, kendaraan, rumah), serta aktiva lain-lain (diluar aktiva lancar dan aktiva tetap) Kemudian kita hitung berapa total hutang, pisahkan hutang jangka pendek (diangsur bulanan) dan hutang jangka panjang. Selanjutnya kita bisa menghitung bahwa modal sendiri adalah total aktiva (aktiva lancar+aktiva tetap+aktiva lain-lain) dikurangi dengan total hutang.

Cash flow perlu dibuat untuk mengetahui aliran uang masuk dan uang yang diperkirakan akan keluar. Dengan membuat cash flow bulanan, maka diharapkan mengurangi terjadinya kejutan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Dan dengan membuat perencanaan, yang kemudian dituangkan dalam cash flow yang disusun bulanan, untuk satu tahun ke depan, kita dapat menganalisis apakah pengelolaan keuangan kita wajar apa tidak. Sebaiknya cash flow didiskusikan antara suami dan isteri, sehingga keduanya sepakat untuk melakukan sesuai rencana yang ditulis.

Jika ada tambahan uang masuk, seperti bonus, insentif, atau uang hasil pendapatan lain-lain , uang tersebut bisa dimasukkan dalam tabungan, yang bisa digunakan sebagai cadangan jika terjadi hal-hal di luar dugaan.

Diharapkan, dengan pengelolaan keuangan yang matang, namun cukup fleksibel, suami isteri akan lebih dapat memfokuskan pada perkembangan karir masing-masing, serta memberi perhatian pada perkembangan pendidikan para putra putrinya.

(http://edratna.wordpress.com/2007/02/22/bagaimana-mengelola-keuangan-rumah-tangga/)

Rabu, 13 Agustus 2008

BISNIS UNTUK MEMPERKAYA HARTA & JIWA


Oleh: Eko Jalu Santoso

“Barangsiapa yang menjadikan dunia ini sebagai satu-satunya tujuan akhir (yang utama), niscaya Allah akan menyibukkan dia dengan (urusan dunia itu) dan Allah akan membuatnya miskin seketika, dan ia akan tercatat (ditakdirkan) merana di dunia ini. Tetapi barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akhirnya, Allah akan mengumpulkan teman-teman untuknya dan Allah akan membuat hatinya kaya dan dunia akan takluk dan menyerah kepadanya.”

- Al-Hadist -

Setiap orang yang bekerja atau menjalankan bisnis tentu sudah memiliki mimpi-mimpi yang menjadi tujuan hidupnya. Sebagian dari mereka memiliki visi atau tujuan yang jauh kedepan berdasarkan nilai-nilai suara hati nuraninya, sedangkan yang lain hanya berkeinginan menjadi seorang wirausahawan terkenal dan kaya raya. Bagi mereka yang berbisnis dengan hati nurani, menjadi wirausahawan kaya raya bukanlah menjadi tujuan akhirnya. Memiliki kekayaan berlimpah bukanlah tujuan utamanya, melainkan sebagai sarana untuk memperbanyak kebaikan dan memperkaya jiwanya.

Keuntungan atau “profit” adalah penting dalam berbisnis, meski demikian keuntungan bukanlah tujuan akhirnya. Karena keuntungan dipandang sebagai sarana memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain mereka memiliki keinginan memperkaya harta dan memperkaya jiwanya secara seimbang. Karena berbisnis adalah bagian dari ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya.

Dalam Bisnis, keuntungan atau “profit” adalah darah bagi kehidupan usaha tersebut. Maka, hampir semua pelaku usaha sepakat bahwa keuntungan adalah hal yang harus diperjuangkan demi pertumbuhan usahanya. Bagi mereka yang hanya dimotivasi oleh kepentingan materialisme, maka dalam berbisnis lebih mengedepankan nilai-nilai materialisme, mendahulukan kepentingan keuntungan harta yang sebanyak-banyaknya. Akibatnya banyak pelaku bisnis yang rela melakukan berbagai terobosan baru, menempuh cara-cara yang kurang terpuji, mempercayai mistis demi keuntungan uang semata.

Seringkali mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya nilai keuntungan itu bukan semata-mata diukur dari besarnya uang yang dibukukan. Mereka, cenderung melakukan berbagai cara asalkan dapat mendatangkan materi kekayaan bagi hidupnya. Akibatnya mereka mudah mengabaikan nilai-nilai spiritual dalam hatinya, demi meraih keuntungan bisnisnya. Inilah yang menjadikan banyak orang kehilangan makna kesuksesan yang diperolehnya. Keberhasilan usaha dan harta yang dimilikinya tidak memberikan nilai tambah bagi kemuliaan dan kebahagiaan tertinggi hidupnya.

Mereka begitu sibuknya mencari berbagai cara dan alternatif demi memaksimalkan pendapatan dan keuntungan perusahaan. Bahkan tidak sedikit yang tanpa disadarinya telah dikuasai dan dikendalikan oleh kepentingan materi ini, hingga mengabaikan nilai-nilai spiritualitas kebenaran. Secara kasat mata kita juga dapat melihat kebanyakan orang-orang yang tenggelam dengan penyelewengan dan penipuan dalam dunia bisnis adalah orang-orang yang terlena dengan kekayaan harta, sehingga mereka mengabaikan nilai-nilai spiritual dalam hatinya. Mereka ini menjadi manusia yang begitu mendewakan harta kekayaan dan men-Tuhankan harta kekayaan.

Bisnis sesungguhnya memiliki bentangan makna yang luas, bukan semata-mata dinilai dari keuntungan uang, namun ada makna yang lebih tinggi dari keuntungan materi. Karenanya dalam berbisnis selain untuk meraih kesejahteraan materi, sebaiknya mempertimbangkan agar Bisnis yang kita lakukan, produk yang kita hasilkan dapat memberikan kontribusi kebaikan dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya. Dengan demikian, berbisnis akan selalu mempertimbangkan nilai-nilai etika, moralitas dan hati nurani.

Menurut Henry David Thoreau, “A man is rich in proportion to the things he can afford to let alone. – Seseorang yang mampu hidup sederhana, maka ia tidak akan pernah merasa kekurangan.” Maknanya, kita perlu mengembangkan budaya positif dalam berbisnis, bukan hanya berorientasi pada kekayaan dan hidup kemewahan, melainkan berorientasi pada manfaat kebaikan bagi banyak orang lain. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh Waren Buffet misalnya, perlu menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua. Meski ia dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia dengan total kekayaan mencapai 62 milliar dollar AS menurut majalah Forbes, ia tetap hidup sederhana di rumah yang dibelinya sejak tahun 1958 dengan harga 31 ribu dollar AS. Ia bahkan lebih senang menyumbangkan harta kekayaannya untuk kepentingan sosial kemanusiaan melalui Yayasan sosial. Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 30,7 milliar dollar AS dan tercatat sebagai penyumbang tertinggi dalam sejarah.

Demikianlah bahwa bisnis, sesungguhnya merupakan panggilan mulia dalam kehidupan. Karena Bisnis dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk memperkaya harta kekayaan dan menggunakannya untuk memperbanyak kebaikan bagi orang lain. Bisnis dapat menjadi jalan memperoleh makna kehidupan dan kebahagiaan sejati melebihi nilai-nilai materialisme. Berbisnis dapat menjadi bagian dari ibadah dan bentuk pengabdian kita kepada Tuhan, kalau dijalankan dengan mengedepankan nilai-nilai spiritualitas kebenaran. Bisnis adalah bagian dari melayani orang lain dan harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya.

Mereka yang berbisnis dengan berorientasi pada manfaat kebaikan bagi orang lain, menjadikan usahanya adalah jalan untuk meraih keberkahan hidup. Dengan demikian tidak mudah dikendalikan oleh nafsu kekayaan berlebihan, tidak serakah dan tamak akan harta kekayaan dan kekuasaan berlebihan. Meskipun mungkin dapat hidup serba mewah dan modern dengan keuntungan usaha yang diperolehnya, namun tetap menjalani hidup sederhana dan lebih senang memberikan manfaat kebaikan kepada banyak orang. Hidup sederhana bukan berarti tidak memanfaatkan segala fasilitas yang memungkinkan kita lebih maju, melainkan hidup hemat, tidak boros atau berlebih-lebihan dan memiliki kepedulian yang tinggi kepada orang lain yang membutuhkan. SEMOGA BERMANFAAT.

*** Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia (motivasiindonesia@yahoogroups.com) dan Penulis Buku “The Art of Life Revolution” dan Buku “Heart Revolution”, keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo.

Selasa, 12 Agustus 2008

Bagaimana memberdayakan affirmasi secara optimal ?

Saya mendefinisikan affirmasi sebagai pernyataan positif yang diucapkan berulang-ulang agar menjadi bagian dalam diri seseorang sesuai keinginan. Affirmasi dapat meliputi pola pikir, perasaan maupun perilaku.

Anda dapat menggunakan affirmasi untuk meningkatkan rasa percaya diri, menyembuhkan luka batin, menambah keyakinan, atau pun sekedar melakukan rileksasi dengan affirmasi.

Contoh affirmasi :

Saya setiap hari bertambah percaya diri.
Setiap tarikan napas membuat saya relaks.

Anda pernah tidak berhasil menggunakan affirmasi ? Tip-tip berikut dapat membantu Anda memahami dan menggunakannya dengan sukses.

  • Affirmasi bukanlah sekedar kata-kata yang diulang-ulang tanpa jiwa di dalamnya. Saya ingin menganalogikan sebagai bicara basa-basi. Apakah Anda mau memenuhi permintaan seseorang yang berbicara sekedar basa-basi ? Tentu tidak dan balasan dari Anda pun hanya sekedar basa-basi.
    Demikian juga dengan affirmasi harus diucapkan dengan penuh perasaan. Rasakan apa yang Anda ucapkan.

  • Jangan membatalkan affirmasi Anda ! Seringkali affirmasi tidak bekerja karena Anda sendiri yang membatalkannya secara tidak sadar. Lho kok bisa ?
    Iya, kita setiap waktu melakukan self-talk yaitu komunikasi dengan / dalam diri sendiri. Menurut penelitian, secara umum orang melakukan self-talk 65.000 kata per hari.
    Dan kalau Anda mempercayai penelitian, 77 % dari self-talk tersebut adalah self talk negative.
    Bayangkan Anda melakukan affirmasi “ saya setiap hari bertambah percaya diri “ di satu sisi dan di sisi yang lain self-talk Anda berkata “ Ah mana mungkin ! “ – “ Saya gak bisa “ – “ Sulit deh “ dan lain-lain. Evaluasikan kembali self-talk Anda dan ganti dengan self-talk positif dan bermanfaat buat diri Anda.
  • Anda menyusun struktur affirmasi yang baik dengan bentuk kalimat posif dalam menyatakan keinginan dan waktu sekarang ( present ) bukan waktu mendatang ( future ) serta spesifik.

    Contoh kalimat positif dalam menyatakan keinginan :
    Saya sedang menciptakan ketenangan dalam diri saya.

    Contoh kalimat negative dalam menyatakan keinginan :
    Saya sedang menghilangkan rasa cemas.

    Contoh affirmasi waktu sekarang :
    Saya setiap hari bertambah percaya diri.

    Contoh affirmasi waktu mendatang :
    Saya akan bertambah percaya diri.

    Contoh affirmasi yang spesifik :
    Saya sedang menurunkan berat badan sebanyak 15 kg dalam waktu 3 bulan.

    Contoh affirmasi yang tidak spesifik :
    Saya sedang menurunkan berat badan.

  • Affirmasi juga harus memenuhi logika yang wajar dan tidak menimbulkan konflik. Pada contoh di atas menurunkan berat badan sebanyak 15 kg dalam waktu 3 bulan adalah hal yang dapat diterima daripada menurunkan berat badan sebanyak 15 kg dalam waktu 1 bulan. Anda bisa saja berdebat “ Bisa kok 15 kg dalam waktu 1 bulan dengan hanya makan 1 kali sehari “ namun hal tersebut menimbulkan konflik dan membuat affirmasi tidak bekerja.

  • Lakukan affirmasi sesering mungkin dan disiplin setiap hari. Anda tidak bisa berharap mendapatkan manfaat dari affirmasi dengan melakukannya sesekali waktu. Saya mengibaratkan affirmasi itu dengan mengganti isi gelas yang sebelumnya terisi kopi dengan susu tanpa membuang kopinya terlebih dahulu. Praktis Anda harus mengisi gelas berisi kopi tersebut dengan susu terus menerus sampai berubah menjadi susu sepenuhnya.

  • Kompilasikan dengan visualisasi ! Selain Anda mengisi jiwa affirmasi Anda dengan perasaaan, akan lebih optimal dan kuat apabila Anda mengisinya dengan visualisasi. Anda sambil mengatakan affirmasi percaya diri dengan merasakan bagaimana rasanya percaya diri dan membayangkan diri Anda SUDAH percaya diri.

Selamat mencoba dan keberhasilan di tangan Anda !

Yosandy L.

Rahasia pengelolaan keuangan keluarga

Pada dasarnya manusia mempunyai kebutuhan yang seolah tidak ada habisnya. Jika kebutuhan primer/dasar (pangan, sandang, papan) telah terpenuhi maka ia akan punya kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan sekundernya seperti pendidikan dan kesehatan. Jika kebutuhan primer dan sekunder sudah terpenuhi maka meningkat pada kebutuhan tersier/kemewahan. Misalnya seseorang mempunyai penghasilan 1 juta perbulan, ia dapat tercukupi kebutuhannya dengan mengesampingkan beberapa kebutuhan yang tidak terlalu penting misalnya rekreasi.

Ketika penghasilannya meningkat menjadi 2 juta, maka 1 juta perbulan menjadi tidak cukup lagi karena kebutuhan yang semula terasa mewah (seperti rekreasi) meningkat statusnya menjadi kebutuhan yang perlu dipenuhi. Demikian pula jika penghasilannya meningkat menjadi 3 juta maka yang 2 juta menjadi tidak cukup karena kebutuhan rekreasi yang semula bisa dipenuhi dengan biaya murah meriah misalnya jalan-jalan ke taman kota meningkat biayanya karena harus rekreasi ke tempat dengan biaya besar. Demikian seterusnya, berubahnya penghasilan bias merubah gaya hidup manusia pada umumnya.

Dengan demikian, maka terpenuhi atau tidak kebutuhan seseorang tidak tergantung pada seberapa tinggi penghasilannya, tapi tergantung pada seberapa cakap ia mengelola penghasilannya. Banyaknya penghasilan seseorang tidak menjamin cukupnya kebutuhan. Ada orang yang merasa cukup dengan penghasilan yang sedikit, namun ada juga yang sudah berpenghasilan 10 juta perbulan ternyata masih keteteran karena gaya hidupnya yang hedonis. Tinggi ataupun rendah penghasilan seseorang perlu pengaturan/pengelolaan yang baik agar tidak lebih besar pasak daripada tiang. Tanpa pengelolaan yang baik beerapapun penghasilan kita tidak akan pernah mencukupi. Karena semakin meningkat penghasilan seseorang maka makin besar pula tingkat pemenuhan kebutuhannya.

TIPS MENGELOLA KEUANGAN

Buat Perencanaan

Merencanakan pendapatan dan pengeluaran merupakan titik awal mengelola keuangan. Dengan perencanaan yang baik, kita dapat mengatur kebutuhan dan menentukan skala prioritas kebutuhan mana yang harus didahulukan untuk dipenuhi. Meskipun pada prakteknya seringkali tidak sesuai dengan perencanaan namun setidaknya dengan perencanaan kita akan lebih mudah mencapai tujuan

• Tulis pos-pos rencana Pendapatan dan Pengeluaran dalam satu bulan

• Atur pengeluaran jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang

• Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi dan diprioritaskan meski kadang tidak kita inginkan. Kebutuhan kita akan sesuatu ada batasnya. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang kita ‘ingin’ meskipun kadang tidak kita butuhkan. Keinginan bersifat tidak terbatas.

• Buat skala prioritas, mana kebutuhan yang sangat penting, penting, kurang penting dan tidak penting.

Catat Pengeluaran harian

Mencatat pengeluaran secara detil dapat membantu kita untuk mengetahui mana pengeluaran yang memang perlu dan merupakan kebutuhan dan pengeluaran mana yang mana yang kurang perlu dan bisa dikesampingkan di hari kemudian.


Nabung

Dalam hal ini menabung dapat digolongkan dalam 2 bagian yaitu menabung di dunia untuk berjaga-jaga atas kebutuhan yang mendesak dan menabung untuk akherat berupa harta yang kita nafkahkan di jalan Allah sebagai investasi kita untuk masa depan yang abadi. investasi akherat tidak akan pernah merugi bahkan akan berlipat ganda tak hanya di akhirat nanti tapi juga akan menambah rizki kita di dunia. Kedua tabungan ini harus kita usahakan pemenuhannya supaya ketenangan hidup kita bertambah.

Tips nabung

• Tentukan tujuan menabung - misal untuk ONH, beli motor, biaya sekolah, dsb

• Lakukan di awal bulan, jangan menunggu sisa krn biasanya manusia sulit menahan diri utk tdk menghabiskan uang (misal susah utk nabung 100 rb tapi bisa bayar utang 200 rb)

• Gunakan segala macam cara : Lembaga Keuangan, celengan ayam, toples, asuransi, obligasi dll. Untuk lembaga keuangan usahakan menggunakan jasa bank syariah atau lembaga Syariah lain misalnya BMT agar terhindar dari riba.

Jangan meremehkan uang receh. Kata pepatah ”Berdikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.” Bahkan dengan menabung secara rutin dan istiqomah seorang tukang becak bisa menunaikan ibadah haji.

Menabung

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian,

bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

Hindari utang

Selain itu kita juga harus berusaha menghindari utang

Tips utang

Pikir masak-masak sebelum utang

• Sebaiknya utang hanya dilakukan jika benar-benar butuh misalnya untuk memenuhi kebutuhan primer atau untuk digunakan untuk modal usaha usaha. Jangan berhutang karena ‘keinginan’ untuk bermewah-mewahan dan membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan atau bisa ditunda pemenuhannya

Utang

Berenang-renang ke hulu terhanyut ke tepian,

bersenang-senang dahulu kepala nyut-nyut kemudian.

hemat dan Sederhana

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam segala perkara, begitu juga dalam mengeluarkan harta, yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Sikap berlebihan adalah sikap hidup yang merusak jiwa, harta, dan masyarakat, sementara kikir adalah sikap hidup yang dapat menahan dan membekukan harta.

Allah berfirman :

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah yang demikian.” (QS. Al-Furqan : 67).

Oleh karena itu, diwajibkan kepada para muslimin untuk bersikap pertengahan dalam membelanjakan harta dan menjauhi sifat kikir. Hal ini diperkuat dengan sabda rasul Saw :

“Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari dia miskin dan membutuhkannya. (HR. Ahmad).

Hemat tidak sama dengan pelit, sederhana tidak berarti menderita. Membelanjakan harta secara sederhana berarti membelanjakan harta sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan(boros) namun tidak pelit. Sikap ini bersifat relatif, tidak sama antara satu orang dengan orang lain karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Misalnya mobil kijang merupakan barang yang sederhana bagi seorang ketua MPR, namun bagi seorang pegawai rendahan bisa menjadi benda yang sangat mewah dan berlebihan. Begitu juga dengan communicator atau PDA Phone, bagi seorang eksekutif yang setiap hari harus berhubungan dengan dunia internet merupakan hal yang wajar. Namun bagi seorang remaja yang masih gaptek dan hanya membeli HP untuk keperluan nelpon dan SMS maka PDA phone merupakan benda yang sangat mewah. Intinya sederhana atau mewah tidak terletak pada mahalnya harga suatu barang, namun pada siapa pemiliknya dan apa kebutuhannya.

Sederhana tidak berarti harus mengenakan pakaian yang usang dan bertambal, HP yang sudah sering drop atau mengendarai motor yang jago mogok. Sepanjang kita mempunyai dana maka tidak terlarang untuk membelanjakan harta untuk membeli hal yang memang kita perlukan. Rasulullah mempunyai seekor unta merah yang hebat, sekelas dengan mobil mewah Jaguar. Rasulullah juga mempunyai sebuah pedang yang bagus dan kuat. Namun hal ini tidak mengurangi kesederhanaan Rasulullah karena memang beliau membutuhkannya. HP sering drop bisa menghambat dakwah karena susah dihubungi, motor yang sering mogok malah berbiaya tinggi karena harus sering keluar masuk bengkel, Pakaian yang sudah usang bisa menjadi bahan omongan orang. Jadi tempatkanlah segala sesuatu dengan sebagaimana mestinya.

Ukur kemampuan diri

Jangan bergaya hidup mewah padahal kita tidak mampu. Bahkan Rasulullah selalu hidup sederhana meskipun beliau bisa hidup mewah jika beliau ingin. Tidak perlu gengsi krn barang-barang kita tidak bermerk, murahan atau sedikit kuno sepanjang masih bisa berfungsi dengan baik dan bisa menunjang kegiatan kita it’s OK.

Cari Penghasilan Sampingan

Salah satu kriteria pribadi muslim adalah Qodirun ‘alal kasbi (mampu berpenghasilan) dan nafi’un li ghoirihi (bermanfaat bagi orang lain). Berusahalah untuk tetap bekerja meskipun kita berada dalam keadaan berkecukupan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Berdasarkan syariat, seorang muslim diminta bekerja untuk mencapai beberapa tujuan seperti untuk memenuhi kebutuhan pribadi dengan harta yang halal, mencegahnya dari kehinaan meminta-minta, dan menjaga tangannya agar tetap berada di atas. Selain itu bekerja merupakan perintah Allah kepada orang-orang beriman :

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah:105)”

Gali dan kembangkan keahlian dan/hobby yg kita miliki, jadikan sebagai peluang untuk mendapatkan maisyah/penghasilan. Tidak perlu mengeluh karena kekurangan modal. Sepanjang ada kemauan untuk maju, maka Allah pasti akan memberikan jalan. Bahkan Abdurahman bin Auf sewaktu hijrah ke Madinah tidak mempunyai apa-apa. Ia hanya minta ditunjukkan dimana letak pasar kepada sahabat Anshar. Dan tak lama kemudian ia sudah menjadi kaya.

Wallahu a’lam bishowab.( http://nando007.ebooktops.com/rahasia-pengelolaan-keuangan-keluarga.html)

Gunakan Waktumu

Bayangkan ada sebuah bank yang memberi anda pinjaman uang sejumlah Rp.
86.400,- aetiap paginya. Semua uang itu harus anda gunakan. Pada malam
hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak anda gunakan selama
sehari. Coba tebak, apa yang akan anda lakukan? Tentu saja,
menghabiskan semua uang pinjaman itu.

Setiap dari kita memiliki bank semacam itu,bernama WAKTU.
Setiap pagi, ia akan memberi anda 86.400 detik. Pada malam harinya ia
akan menghapus sisa waktu yang tidak amda gunakan untuk tujuan baik.
Karena ia tidak memberikan sisa waktu pada anda. Ia juga tidak
memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan membuka
satu rekening baru untuk anda. Setiap malam ia akan menghanguskan yang
tersisa. Jika anda tidak menggunakannya maka kerugian akan
menimpa anda. Anda tidak bisa menariknya kembali. Juga, anda tidak
bisa meminta “uangmuka” untuk keesokan hari. Anda harus hidup didalam
simpanan hari ini. Maka dari itu, investasikanlah untuk kesehatan,
kebahagiaan dan kesuksesan anda.

Jam terus berdetak. Gunakan waktu anda sebaik-baiknya.

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN,
tanyaka pada murid yang gagal kelas.

Agar tahu Pentingnya waktu SEBULAN,
tanyakan pada murid yang gagal kelas.

Agar tahu pentingnya Waktu SEMINGGU,
tanyakan pada Editor majalah mingguan.

Agar tahu pentingnya waktu SEJAM,
tanyakan pada kekasih yang menunggu
bertemu.

Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT,
tanyakan pada orang yang ketinggalan
pesawat terbang.

Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK,
tanyakan pada orang yang baru saja
terhindar dari kecelakaan.

Agar tahu pentingnya waktu
SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih
medali perak olimpiade.

RENUNGAN:
Hargailah setiap waktu yang anda
miliki. Dan ingatlah waktu tidaklah
menunggu siapa2. (http://dhodyw.wordpress.com)

 
What Is The Secret